Keladi Satoimo
Keladi Satoimo
Keladi satoimo adalah tanaman herba berumbi dari famili Araceae yang menghasilkan banyak umbi anakan (cormel) dan banyak dibudidayakan sebagai tanaman pangan bernilai gizi tinggi di Asia.


Sumber: Pangannews.id https://www.google.com/url?sa=t&source=web&rct=j&url=https%3A%2F%2Fpangannews.id%2Fberita%2F1632816549%2Ftalas-satoimo-berprospek-cerah-ekspor-ke-jepang&ved=0CBYQjRxqGAoTCNDa_fKZwJUDFQAAAAAdAAAAABCjAQ&opi=89978449
Colocasia esculenta var. Antiquorum
Keladi satoimo (Colocasia esculenta var. Antiquorum) adalah varietas talas yang dicirikan oleh umbi induk berukuran relatif kecil dengan banyak umbi anakan, sehingga banyak dimanfaatkan sebagai bahan pangan, sayuran, dan komoditas pertanian. Dikenal sebagai talas Jepang, karena masyarakat Jepang umumnya mengonsumsi talas Satoimo sebagai makanan pokok
🔁 Sinonim
–
🌱 Habitat
Keladi satoimo tumbuh secara alami maupun dibudidayakan pada daerah tropis dan subtropis yang lembap, seperti tepi sungai, lahan pertanian, kebun, sawah tadah hujan, dan daerah dengan tanah gembur yang kaya bahan organik. Tanaman ini tumbuh optimal pada tanah yang selalu lembap tetapi tidak tergenang dalam waktu lama, dengan paparan sinar matahari penuh hingga naungan ringan.
☀️ Syarat Tumbuh
Iklim: Tropis dan subtropis lembap
Suhu: 20–30°C
Curah hujan: 1.500–2.500 mm/tahun
Tanah: Lempung berpasir atau lempung berhumus yang subur. pH tanah 5,5–7,0
Cahaya: Matahari penuh hingga naungan parsial
Drainase: Baik dengan kelembapan tanah yang stabil
🌍 Penyebaran Tanaman
Diperkirakan berasal dari kawasan Asia Tenggara hingga India, kemudian berkembang luas di Jepang, Tiongkok, Korea, Taiwan, dan negara-negara Asia lainnya sebagai tanaman pangan penting. Saat ini satoimo juga dibudidayakan di berbagai wilayah tropis dan subtropis, termasuk Indonesia, Filipina, Thailand, Malaysia, Australia, Selandia Baru, Amerika Serikat (Hawaii), serta beberapa negara di Afrika dan Eropa. Di Indonesia, tanaman ini mulai banyak dikembangkan sebagai komoditas hortikultura bernilai ekonomi tinggi.
🗣️ Nama Lokal
–
🌾 Agroekologi
Keladi satoimo merupakan tanaman yang beradaptasi baik pada lahan dataran rendah hingga pegunungan dengan curah hujan cukup. Pertumbuhan optimal dicapai pada tanah yang subur, kaya bahan organik, dan memiliki kelembapan tinggi. Tanaman ini memiliki toleransi lebih baik terhadap lahan yang tidak tergenang dibandingkan talas sawah, sehingga sesuai dibudidayakan pada lahan kering beririgasi maupun kebun.
🌿 Morfologi
Akar: Sistem akar serabut yang berkembang dari umbi
Umbi: Umbi induk berbentuk bulat hingga oval, menghasilkan banyak umbi anakan (cormel) yang menjadi ciri khas varietas ini. Daging umbi berwarna putih hingga krem
Batang: Batang sejati sangat pendek dan berada di bawah permukaan tanah, pelepah daun membentuk batang semu
Daun: Daun tunggal berbentuk jantung hingga perisai. Berwarna hijau tua hingga hijau muda, permukaan halus dengan tulang daun yang jelas, tangkai daun tegak dan kokoh
Bunga: Bunga majemuk bertipe tongkol (spadix) yang diselubungi seludang (spathe) berwarna kuning kehijauan. Bunga jarang muncul pada tanaman budidaya
🌱 Budidaya
Perbanyakan: Menggunakan potongan umbi atau anakan
Penanaman: Penanaman dilakukan pada tanah yang telah diberi pupuk kandang atau kompos
Panen: Umbi dipanen pada umur sekitar 7–10 bulan setelah tanam, ketika daun mulai menguning dan mengering
⚗️ Kandungan Bahan Kimia
Karbohidrat (pati)
Serat pangan
Protein
Vitamin C, B1 (tiamin), B6
Kalium
Magnesium
Fosfor
Kalsium
Zat besi
Senyawa fenolik
Flavonoid
Mukopolisakarida
Kristal kalsium oksalat
💊 Khasiat
Sebagai sumber karbohidrat alternatif
Membantu memenuhi kebutuhan serat pangan
Mendukung kesehatan sistem pencernaan
Menjaga kesehatan jantung
Antioksidan
Menjaga daya tahan tubuh
🌿 Simplisia
Simplisia yang dapat diperoleh dari tanaman ini meliputi umbi kering, daun kering, tepung umbi.
🧩 Bagian Tanaman yang Dimanfaatkan
Umbi induk
Umbi anakan
Daun muda (setelah dimasak)
Tangkai daun muda
🌿Ramuan Tradisional
Ramuan untuk membantu memulihkan energi:
✅ Bahan-bahan
200 gram umbi satoimo
500 ml air
Sedikit garam atau gula merah (sesuai selera)
🍵 Cara Penyajian
1. Kupas umbi dan cuci hingga bersih
2. Rebus selama 30–40 menit hingga umbi lunak
3. Umbi rebus dapat langsung dikonsumsi atau dihaluskan menjadi bubur
4. Dapat pula diolah menjadi sup, kolak, atau campuran berbagai hidangan tradisional
Sumber Pustaka
- Royal Botanic Gardens, Kew. Plants of the World Online (POWO) – Colocasia esculenta. https://powo.science.kew.org/taxon/urn:lsid:ipni.org:names:87308-1
- World Flora Online. Colocasia esculenta. https://www.worldfloraonline.org/
- Food and Agriculture Organization (FAO). Edible Aroids: Taro and Cocoyam. https://www.fao.org/
- PROTA (Plant Resources of Tropical Africa). Colocasia esculenta. https://www.prota4u.org/
- CABI Digital Library. Colocasia esculenta Datasheet. https://www.cabidigitallibrary.org/
- Japan International Research Center for Agricultural Sciences (JIRCAS). Satoimo (Colocasia esculenta var. antiquorum) Cultivation and Utilization.
https://www.jircas.go.jp/
